- Peneliti luar negeri melaporkan burung elang endemik Pulau Nias dan burung hantu Pulau Siau punah di alam kepada IUCN.
- Ketua Raptor Indonesia Zaini Rakhman menyatakan akan melakukan asesmen dan penelitian langsung untuk memastikan kebenaran laporan tersebut.
- Punahnya burung pemangsa ini berpotensi merusak rantai makanan serta keseimbangan ekosistem akibat hilangnya predator puncak.
Ia menyatakan, akan melakukan penelitian ke Pulau Nias terkait adanya laporan tersebut dan juga ke Pulau Siau untuk memastikan apakah benar telah punah di alam.
"Kalau kami perlu melakukan penelitian ke sana untuk memastikan bahwa spesies itu masih ada atau tidak di alam. Kami juga akan studi komparatif untuk melihat kira-kira seperti apa yang mungkin ada pemeliharaan itu mungkin jadi bisa jadi indukan untuk penangkaran," ujarnya.
"Yang paling dekat kami lakukan mungkin sebelum ke Nias kami akan coba lihat dulu yang di Pulau Siau itu. Burung Hantu Siau itu juga dikatakan punah," ujarnya.
Burung hantu di Pulau Siau itu dilaporkan punah di awal tahun 2026. Dan memang burung hantu statusnya sangat kritis dan misterius.
Spesimen pertamanya dikoleksi sekitar 150 tahun lalu dan populasinya tercatat hanya satu spesiesmen.
" Hanya ada di sana. Kalau tidak salah (dilaporkan punah di alam) awal tahun 2026. (Populasinya) justru lebih ekstrem lagi yang Siau itu. Jadi hanya ada satu spesimen sejak perjumpaan, jadi tidak ada perjumpaan lagi, tidak ada record lagi setelah 150 tahun. (Kenapa diumumkan 2026). Karena sudah ada beberapa peneliti untuk melihat ke sana dan tidak menjumpai," katanya.
"Artinya saya belum tahu, tapi yang jelas itu tidak ada report setelah 150 tahun. Tidak ada catatan lagi setelah diambil spesimen, oh ini spesimennya baru, jenis baru dan sebagainya. Setelah itu tidak ada catatan lagi sampai 150 tahun, kami belum tahu misalnya dinyatakan punahnya itu, baru terakhir-terakhir ini ketika ada orang yang melakukan penelitian di sana," jelasnya.
Ia menerangkan, terkait burung dinyatakan punah di alam oleh peneliti tentu dibuktikan dengan melakukan penelitian dan sebagainya. Nantinya, pihaknya akan melakukan cross check kembali.
"Jadi kaidah-kaidah untuk dunia peneliti itu ada. Misalnya, kami melakukan penelitian kemudian membuat sebuah publikasi. Dari publikasi itu baru di kami akan dicrosscheck seperti apa, dichallenge. Kamu penelitiannya benar apa tidak," ujarnya.
Baca Juga: Tujuh Ribu Burung Kicau dari NTB Diselundupkan ke Bali
"Kalau jangka waktu (penelitian) secara spesifik itu tidak ada tapi lebih cenderung ke metode. Jadi nanti penelitian yang ini, cover areanya berapa persen sih dari luas area," jelasnya.
Ia menyampaikan, punahnya burung elang maupun burung hantu di alam, tentu kedepannya mempengaruhi rantai makanan dan tidak ada keseimbangan ekosistem.
"Contohnya banyak terjadi di Pulau Jawa. Burung hantu banyak ditangkap kemudian terjadi populasi tikus meningkat akhirnya ke sawah. Sama juga elang, kalau elang itu di siang hari, burung hantu siang di malam hari (mencari makan)," ujarnya.
"Mereka disebut raptor, karena dia top predator, puncak piramida ekosistem di situ. Jadi dia yang akan mengatur keseimbangan mangsanya di situ. Kenapa semua jenis elang dilindungi pemerintah, karena dia punya fungsi peran penting," ujarnya.
Selain itu, ada beberapa faktor penyebab burung elang maupun burung hantu punah di alam. Pertama, kerusakan habitat utamanya di hutan, seperti ada fakto degradasi, fragmentasi dan deforestasi. Kedua, pemburuan terutama di Asia Tenggara cukup banyak perburuan.
Kemudian ketiga, potensi pakannya tentang pestisida tetapi ini belum banyak melakukan riset.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Flores Kembali Diguncang Gempa Magnitudo 5,1, BMKG: Hati-hati Bangunan Retak
-
Elang Nias dan Burung Hantu Siau Dilaporkan Punah di Indonesia, Benarkah?
-
Kabar Baik! Kirim Bantuan untuk Korban Gempa NTT Lewat Pelni Digratiskan 100 Persen
-
Siap-siap Lebih Ramai! MotoGP 2026 Diproyeksikan Jadi Magnet Baru Ekonomi Mandalika
-
BRI Group Raih Enam Penghargaan Internasional, Tegaskan Daya Saing di Tingkat Global