- Nilai tukar rupiah melemah menembus Rp17.500 per dolar AS pada 12 Mei 2026 akibat tekanan faktor global dan domestik.
- Konflik AS-Iran memicu lonjakan harga minyak dunia serta penguatan dolar AS yang menekan stabilitas ekonomi dan fiskal nasional.
- Sentimen peninjauan indeks MSCI dan penurunan prospek peringkat kredit internasional menurunkan minat investor terhadap aset berdenominasi rupiah Indonesia.
SuaraBali.id - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.500 per dolar AS pada Selasa 12 Mei 2026, dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.
Tekanan tersebut membuat investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset-aset berdenominasi rupiah.
Josua menjelaskan dari sisi global, kenaikan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi faktor utama yang menekan rupiah.
Sebab, Indonesia termasuk negara yang memiliki ketergantungan impor energi cukup tinggi sehingga lebih rentan terhadap lonjakan harga minyak dan pergerakan modal asing.
“Dua faktor tersebut efeknya terhadap ekonomi kita relatif cenderung lebih besar dibandingkan mungkin dengan negara-negara lain. Sehingga dampaknya pun relatif lebih cepat terhadap nilai tukar rupiah kita,” ujar Josua dalam acara PIER Economic Review Kuartal I 2026 yang digelar secara virtual di Jakarta.
Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran pasar karena berpotensi menambah beban impor dan menekan stabilitas fiskal nasional. Pada saat yang sama, penguatan dolar AS mendorong arus modal asing keluar.
Sementara dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh penantian hasil MSCI Index Review periode Mei 2026 yang akan diumumkan pada Selasa waktu New York atau Rabu waktu Indonesia.
MSCI bakal mengumumkan hasil peninjauan berkala terhadap sejumlah indeks global, termasuk saham-saham Indonesia yang masuk maupun keluar dari indeks tersebut.
Pada peninjauan kali ini, MSCI menerapkan kriteria yang lebih ketat terkait High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi.
Baca Juga: Desa Sausu Tambu Tembus Prestasi Nasional, Ekonomi Pesisir Tumbuh Lewat Program Desa BRILiaN
Kebijakan tersebut dinilai berdampak pada sejumlah saham berkapitalisasi besar di Indonesia yang memiliki free float terbatas dan berpotensi mengalami penyesuaian bobot indeks.
Selain itu, Josua melanjutkan, penurunan prospek peringkat kredit Indonesia oleh Moody's Ratings dan Fitch Ratings pada awal tahun juga memengaruhi minat risiko (risk appetite) investor global terhadap pasar saham dan obligasi domestik.
“Kita bisa lihat bahwa rentetan risiko global ditambah lagi ada penilaian ataupun peringatan dari lembaga internasional terhadap Indonesia, sehingga ini memberikan dampak yang cukup masif terhadap risk appetite investor asing, khususnya terhadap aset-aset berdenominasi rupiah kita,” katanya.
Meski demikian, Josua menegaskan kondisi pelemahan rupiah saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis moneter tahun 1997-1998.
Fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat baik dari sisi cadangan devisa maupun posisi utang luar negeri pemerintah.
Josua juga memandang, rupiah secara riil masih berada dalam kondisi undervalued atau di bawah nilai wajarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Transjakarta Resmi Hapus 3 Rute Bus Penghubung Rusun, Warga Diminta Pakai Rute Alternatif
- 5 Novel Sejarah untuk Menelusuri Jejak G30S/PKI, Jangan Lupakan Masa Lalu!
- Perbedaan Pompa Air Jet Pump vs Pompa Celup Submersible untuk Sumur Dalam, Mana yang Cocok?
Pilihan
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
Terkini
-
Membara! Begini Kondisi Terkini Kebakaran Hutan di Jalur Gunung Rinjani
-
9 Tahun Wajib Pakai Busana Adat Bali, Ini Hasilnya
-
Tim Gabungan di Lombok Timur Sisir Puluhan Pondok Pesantren
-
Bule Rusia Ditemukan Tewas di Bawah Tebing Kawasan Tanjung Mebulu
-
Makin Seru di Pestapora 2026, BRImo Hadirkan Ragam Program Spesial