- BKSDA Bali mengevakuasi seekor Elang Tikus di Tabanan dan seekor bayi Lutung Jawa di Kabupaten Badung
- Kedua satwa dilindungi tersebut diserahkan oleh warga setempat kepada pihak berwenang sebagai bentuk kesadaran menjaga kelestarian satwa liar.
- Satwa tersebut kini menjalani rehabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa Tabanan guna memulihkan kesehatan sebelum dilepasliarkan ke habitat aslinya.
SuaraBali.id - Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali mengevakuasi satwa dilindungi yakni Elang Tikus (Elanus caeruleus) Tabanan dan bayi Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) masing-masing di Kabupaten Tabanan dan Badung berdasarkan inisiatif warga.
“Kesadaran masyarakat mulai tumbuh dan kami sangat mengapresiasi hal tersebut,” kata Kepala BKSDA Bali Ratna Hendratmoko di Denpasar, Selasa (21/4).
Satu Elang Tikus itu diserahkan seorang warga di Banjar (setara dusun) Celagi, Desa Denbatas, Kabupaten Tabanan, kepada BKSDA karena ditemukan dalam kondisi terjerat getah sehingga menghambat pergerakannya.
Sementara itu satu bayi Lutung Jawa diserahkan sukarela oleh seorang warga di Kabupaten Badung yang membeli dari salah satu lokasi yang tidak disebutkan oleh pemilik sebelumnya.
Bayi lutung berjenis kelamin jantan tersebut diperkirakan berusia sekitar satu bulan.
BKSDA Bali menilai kondisi itu mengindikasikan masih adanya praktik perdagangan satwa liar ilegal di masyarakat.
Secara fisik, bayi lutung tersebut memiliki ciri khas berupa warna bulu cokelat keemasan yang mencolok, yang merupakan karakteristik alami pada fase usia awal.
Selanjutnya, kedua satwa tersebut juga dititipkan di Yayasan Pecinta Alam dan Kemanusiaan atau yang lebih dikenal dengan Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tabanan untuk menjalani proses rehabilitasi, guna memulihkan kondisi fisik dan perilaku alami, observasi kondisi kesehatannya, serta perawatan intensif.
Proses rehabilitasi yang dilakukan pada kedua satwa tersebut tidak hanya difokuskan pada pemulihan kondisi kesehatan, kata dia, tetapi juga pada pengembalian sifat liar (insting alami) satwa sebagai bekal utama, sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.
Baca Juga: Konflik Tanah Adat, Pemerintah Didesak Kaji Pembatalan Konsensi Tambang AMNT
Elang Tikus dan Lutung Jawa merupakan jenis satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang telah diperbarui melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024, serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.
Keberadaan kedua satwa itu di alam liar saat ini menghadapi berbagai ancaman, antara lain perburuan liar, perdagangan ilegal, serta alih fungsi habitat, sehingga upaya penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran adalah krusial untuk upaya penyelamatan satwa tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- Bau Babi di Kapal ASDP Tuai Keluhan Penumpang, Pemerhati Usul Kapal Khusus Ternak dari APBN
- Penyekapan 10 Calon ART Gegerkan Surabaya, Pemkot Segel Penampungan di Kedung Anyar
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Perkuat Nilai bagi Pemegang Saham, BRI Siapkan Buyback Saham Rp1 Triliun
-
Ini Identitas Dua Bule Prancis Pemeran Video Syur Berdurasi 13 Menit yang Hebohkan Bali
-
Pakai Barcode Palsu, Sindikat BBM Subsidi di Denpasar Raup Omzet Rp75 Juta
-
Polda NTB Sita 1.734 Liter Pertalite Subsidi di Lombok Timur
-
Bau Babi di Kapal ASDP Tuai Keluhan Penumpang, Pemerhati Usul Kapal Khusus Ternak dari APBN