- Monkey Forest Ubud, dikenal juga Mandala Suci Wenara Wana, adalah konservasi populer Bali dengan sekitar 1260 monyet.
- Tempat suci sejak abad ke-14 ini memadukan alam, pura aktif seperti Dalem Agung Padangtegal, dan monyet bebas.
- Tiga pura bersejarah di lokasi ini menghormati Dewa Siwa, namun pengunjung hanya boleh melihat bagian luarnya.
SuaraBali.id - Monkey Forest Ubud dikenal sebagai destinasi wisata konservasi monyet yang paling populer di Bali.
Tempat ini juga disebut Mandala Suci Wenara Wana, cagar alam dan kompleks candi yang terletak di Desa Padangtegal, Ubud.
Di tempat ini memiliki kurang lebih 1260 ekor monyet ekor Panjang (Macaca fascicularis) (63 jantan dewasa, 34 jantan muda, 219 betina dewasa, 29 betina muda, 167 juvenile 1 (2-3 tahun), 118 juvenile 2 (1-2 tahun), 63 Infant old (5-12 bulan) dan 56 Infant.
Sejak abad ke 14, tempat ini dianggap sebagai tempat suci yang menyimpan kekuatan spiritual.
Monyet yang ada disini dianggap sebagai hewan suci, melambangkan perlindungan dan kejahatan, serta menumbuhkan hubungan unik antara manusia dan satwa liar.
Di abad ke 20, Monkey Forest Ubud mendapat pengakuan sebagai Kawasan konservasi yang penting.
Bukan hanya sekedar hutan yang dihuni dengan ribuan monyet. Monkey Forest Ubud merupakan perpaduan alam, pura – pura aktif serta monyet – monyet yang berkeliaran bebas.
Iya, di sini ada beberapa pura yang masih aktif digunakan untuk beribadah. Diantaranya yaitu Pura Dalem Agung Padangtegal, Pura Beji dan Pura Prajapati.
Pura Dalem Agung Padangtegal merupakan salah satu dari tiga pura Hindu yang berada di Monkey Forest Ubud.
Baca Juga: Rahasia Wisatawan Cerdas Hemat Waktu dan Uang Liburan di Bali
Pura yang disebut dengan ‘Kuil Utama’ ini terletak di sebelah barat daya Kawasan Monkey Forest Ubud.
Umat Hindu di Desa Padangtegal mempersembahkan pura ini untuk memuja Dewa Siwa dalam manifestasi sebagai dewa pelebur atau pengubah.
Wisatawan mancanegara kerap menyebut ‘Padangtegal Great Temple of Death’.
Sebutan ini erat kaitannya dengan konsep kematian dan siklus hidup dalam ajaran Hindu Bali.
Sehingga menggambarkan siklus hidup – mati – lahir Kembali, bukan tempat yang menakutkan.
Ketiga pura bersejarah ini tidak boleh dikunjungi oleh sembarangan orang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Bukan Sekadar Lari, Ini Cara Unik Bali Promosikan Destinasi Wisata yang Belum Banyak Diketahui
-
Siswi SMP Dipaksa Nikah Siri Karena Pulang Malam, Ijazah Dibakar Ayah
-
Stop Dirikan Pondok Pesantren! Ini Alasan Kemenag NTB
-
Harga Oli Motor Terus Meroket, Begini Cara Mengetahui Oli Palsu
-
Modus Licik S: Janjikan Lokasi Makan Bergizi Gratis, Warga Rugi Rp950 Juta