SuaraBali.id - Sambutan Tari Pendet dirasakan para kepala negara dan pemimpin delegasi yang datang ke KTT G20 di Bali.
Berhias nampan cekung atau bokor penuh bunga berhias janur di tangan kanan, rambut panjang disasak dengan diberi hiasan bunga dan mahkota, dan balutan kain tradisional Bali dengan paduan warna yang menyiratkan keanggunan, tarian itu kerap disajikan sebagai sambutan bagi tetamu yang berkunjung ke Pulau Dewata.
Tokoh seni dan budayawan Bali Profesor I Wayan Dibia menjelaskan, penggunaan tarian pendet untuk menyambut tetamu di Bali mengandung nilai penghormatan masyarakat Bali terhadap tamu.
“Di sana ada nilai bagaimana masyarakat Bali, masyarakat Indonesia menghormati tamu-tamunya. Tari pendet ini memang sudah menjadi tarian untuk hiburan. Jadi tidak ada pelanggaran nilai-nilai keagamaan atau pakem,” ungkap Dibia kepada Tim Komunikasi dan Media G20, Senin (14/11/2022).
Awalnya tarian ini merupakan tari sakral (wali) yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Sebagai bagian dari upacara piodalan di pura atau tempat suci keluarga.
Upacara ini adalah perwujudan rasa syukur, hormat dan sukacita untuk menyambut para dewata yang turun ke bumi. Secara etimologis, mendet berasal dari mendak (menyambut). Dari prosesi inilah lahir tari pendet.
Tari Pendet merupakan tari kreasi yang dikembangkan dari tarian ritual 'Pendet Dewa', yang diciptakan oleh maestro tari I Wayan Rindi. Tarian itu kemudian dikembangkan oleh Ni Ketut Reneng pada 1950.
Kala itu, Pendet menampilkan empat orang penari dalam pertunjukannya. Kemudian pada 1961, I Wayan Beratha mengembangkan Tari Pendet dengan menambah penari menjadi lima. Namun pada saat penyambutan para kepala negara, jumlah penari bertambah hingga puluhan.
Seiring perkembangan zaman, para seniman kemudian mengembangkan tarian yang semula hanya berfungsi sebagai tari upacara berkembang menjadi tari hiburan (balih-balihan) yang berfungsi sebagai tari penyambutan atau tarian selamat datang untuk para tamu.
Baca Juga: Kronologi Iriana Jokowi Terpeleset saat Turun Tangga Pesawat Kepresidenan, Respon Jokowi Mengejutkan
Menurut Dibia dalam setiap gerakan tari yang berusia lebih dari 70 tahun itu tersirat pesan kebersamaan dan kesatuan rasa. Di dalam tarian itu tidak ada ekspresi individu. Semuanya merupakan ekspresi kelompok sehingga rasa kebersamaan sangat dipentingkan.
“Dengan seni kita bisa mengusik kesadaran para pimpinan negara bahwa kita memang harus bersama-sama dalam menghadapi kondisi dunia seperti sekarang ini. Oleh karenanya, pas sekali kalau tarian ini dibawakan menyambut delegasi G20. Itu kan misi untuk kebersamaan para kepala negara supaya bersama-sama memikirkan kondisi dunia tanpa pilih kasih,” katanya.
Dibia menaruh tiga harapan pada penyelenggaraan KTT G20. Pertama, penyajian tari pendet menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah pemilik asli tarian ini. Kedua, penggunaan tari pendet dalam penyambutan memberikan sentuhan estetik yang sangat kental tentang Bali.
Ketiga, lewat tarian masyarakat Bali hendak memberitahukan bentuk kreativitas khas Bali, yang selalu berorientasi pada nilai-nilai tradisional, tidak terbelenggu dengan ikatan-ikatan yang kaku.
Ia menambahkan tari pendet untuk penyambutan tamu terinspirasi dari tarian upacara. Karena itu, namanya serupa. Meski demikian ada yang membedakan antara tari pendet untuk upacara dengan tari pendet penyambutan. Pada tari pendet penyambutan (pendet puja astuti) koreografi lebih formal dengan struktur gerakan lebih jelas.
Sedangkan gerakan dan properti tari pendet untuk upacara jauh lebih sederhana. “Untuk upacara, penarinya membawa sesaji. Sedangkan kalau tari penyambutan untuk tamu di akhir tariannya menabur bunga sebagai ucapan selamat datang,” jelas Dibia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar
-
Bahasa Sasak Terancam Hilang? 2,2 Juta Penutur Hadapi Tantangan Baru di Era Modern
-
Qlola Mobile BRI Hadirkan Kemudahan Pantau Keuangan Perusahaan secara Real-Time
-
Pria di Klungkung Berakhir Babak Belur Dihajar Saat Ngopi
-
Nikmati Promo Spesial Cashback BRI di Hari Sumpah Pemuda Pakai QRIS BRImo