SuaraBali.id - Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) M. Ryano Panjaitan mengatakan, Polri sebaiknya memberikan pelatihan lapangan kepada seluruh anggotanya. Agar lebih humanis dan tidak represif kepada masyarakat.
"Sebaiknya Polri dan aparatur lainnya melakukan pelatihan-pelatihan lapangan dan hentikan tindakan represif kepada masyarakat," kata Ryano Panjaitan dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu 2 Oktober 2022.
Dia mengatakan hal tersebut untuk menanggapi tragedi tewasnya ratusan suporter sepak bola di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, usai laga Arema FC berhadapan dengan Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10).
Menurut Ryano, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo harus segera berbenah dan mereformasi secara kultural di tubuh instansi Bhayangkara tersebut. Menurut dia, dalam video yang beredar di media sosial terkait tragedi Kanjuruhan, terlihat aksi represif polisi menembaki suporter dengan gas air mata.
Dalam peristiwa kelam sejarah sepak bola Indonesia itu, sedikitnya 129 orang meninggal dunia, termasuk dua anggota Polri. Dia menjelaskan korban tewas umumnya karena sesak napas akibat tembakan gas air mata dari aparat polisi, yang bahkan mengarahkan tembakan itu ke arena tribun penonton dimana seperti diketahui tidak ada keributan.
Dia mengatakan sudah terlalu banyak kekerasan bahkan kejahatan yang dilakukan oleh oknum polisi dengan mengedepankan kekerasan fisik terhadap masyarakat sipil, mulai dari salah tangkap, penganiayaan di sel, membanting demonstran, dan sebagainya.
"KNPI berduka atas tragedi di Stadion Kanjuruhan. Harus ada yang harus bertanggung jawab," imbuhnya.
Pihak yang harus bertanggung jawab di antaranya panitia, pengurus klub, Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Nico Afinta, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, hingga Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali.
Ryano menilai tidak hanya Polri, namun semua pemangku kepentingan juga harus berbenah dan harus dimulai dari pertanggungjawaban pidana terkait tragedi di Stadion Kanjuruhan. Apalagi, Presiden Joko Widodo sudah memerintahkan Kapolri untuk mengusut tuntas peristiwa itu.
Hukuman berat terhadap tim-tim sepak bola yang merugikan seperti tragedi Kanjuruhan harus tegas dan jangan hanya sebatas wacana, sehingga ke depannya semua pihak punya rasa takut untuk berbuat ricuh, ujarnya. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
Terkini
-
Kapal Angkut Turis Asing Meledak dan Terbakar di Nusa Penida
-
BRI Borong 4 Penghargaan di Top 20 Financial Institutions Award 2026
-
Penyelam Tewas saat Menembak Ikan, Sempat Berteriak Minta Tolong
-
Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar
-
Bahasa Sasak Terancam Hilang? 2,2 Juta Penutur Hadapi Tantangan Baru di Era Modern