SuaraBali.id - Pedetan adalah hidangan ikan kering berbumbu tradisional yang diolah masyarakat di daerah Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Terbuat dari ikan lemuru, sumber pangan laut yang banyak dihasilkan di daerah pesisir Kabupaten Jembrana.
Sebagai salah satu produk unggulan daerah dan menjadi hidangan tradisional setempat, pedetan umumnya masih memiliki daya simpan singkat akibat terkontaminasi jamur Aspergillus sp.
Dikutip dari BeritaBali.com, jaringan SuaraBali.id, Mudahnya pedetan ikan lemuru terkontaminasi jamur ini akibat kurangnya kebersihan atau sanitasi ruang pengolahan.
"Teknologi produk tradisional perikanan dicirikan dengan suatu gambaran yang kurang baik, yaitu diolah dengan tingkat sanitasi dan higiene yang rendah, menggunakan bahan mentah dengan tingkat mutu atau kesegaran yang rendah, keamanan pangannya tidak terjamin, dan teknologi yang digunakan secara turun temurun," ungkap Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat, Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa, Dr. Ni Made Ayu Suardani Singapurwa, STP., MSi saat memberikan pendampingan pada Kelompok Mina Sari Sejahtera, Desa Perancak-Jembrana di Jembrana pada Minggu (20/6/2021).
Menurutnya pengolahan ikan secara tradisional memiliki permasalahan sangat kompleks dan lebih banyak didasarkan pada konsepsi yang diwariskan secara turun temurun.
Proses pengolahan hasil perikanan yang beragam pada tiap desa menjadikan ciri khas tersendiri bagi desa penghasil.
"Kondisi ini mempengaruhi adanya kualitas dan keamanan pangan yang berbeda. Oleh karena itu produk yang dihasilkan tidak seragam secara kuantitatif maupun kualitatif, dengan daya awet yang bervariasi sehingga sulit untuk distandarisasikan," jelas Ayu Suardani saat didampingi anggota tim lainya yaitu Ir. I Putu Candra, MP, Ir. I Nyoman Rudianta, M.Agb dan Ir. Ni Komang Armaeni, ST., MT.
Ayu Suardani menambahkan bahwa pemberian bumbu yang tepat dan cara pengolahan yang baik akan dapat menghindarkan produk dari kerusakan yang disebabkan oleh jamur. Selain itu juga perlu dilakukan penerapan kelayakan dasar GMP (Good Manufacturing Practice) atau CPMB (Cara Produksi Makanan yang Baik) dan SSOP (Sanitation Standard Operating Procedures) agar dapat menghasilkan pedetan ikan lemuru yang berkualitas dan aman dikonsumsi.
Guna mengatasi permasalahan yang dihadapi Kelompok Mina Sari Sejahtera, saat pembinaan juga dilakukan penyerahan bantuan peralatan pengolahan berupa beberapa panci dan waskom ukuran besar untuk mengolah pindang dan pedetan.
Baca Juga: Wisata Bali: Menunggu Pintu Wisman Dibuka, Pulau Dewata Perlu Kembali Hidup
Kelompok juga diberikan pengetahuan sanitasi hygiene dalam pengolahan, dengan penggunaan apron, sarung tangan, masker dan penutup kepala selama melakukan pengolahan produk, serta menjaga kebersihan lingkungan.
Ketua Kelompok Mina Sari Sejahtera, Ni Wayan Darwati mengakui jika selama ini sangat mengharapkan adanya pelatihan teknologi pengolahan dan pengawetan hasil perikanan yang baik dan dengan sanitasi higiene yang baik.
"Produk hasil perikanan sudah diproduksi dan dipasarkan oleh kelompok, namun belum intensif, karena kelompok belum mendapatkan pengetahuan dalam bidang kewirausahaan, sehingga mengalami hambatan dalam pengelolaan produksi dan pemasaran menjadi hambatan untuk bisa masuk ke pasar yang lebih luas," papar Darwati.
Ia menyatakan bahwa tempat pengolahan pemindangan dan pembuatan pedetan masih sangat sederhana. Lantai pengolahan masih dengan lantai tanah, dinding bangunan masih menggunakan bambu serta atap masih dengan atap asbes.
Terdapat beberapa kelompok pengolah hasil perikanan yang ada di Kabupaten Jembrana, salah satuya ada di Desa Perancak.
Kelompok pengolah ikan Mina Sari Sejahtera yang ada di Desa Perancak Kecamatan Perancak Kabupaten Jembrana terbentuk pada tahun 2019 dengan jumlah anggota sebanyak 10 orang. Kelompok ini memproduksi rata-rata 25-50 kg ikan mentah per hari, dengan omzet Rp250.000 – Rp500.000 per hari.
Berita Terkait
-
Wamendagri Bima Arya Dorong Tiga Langkah Perkuat Ketahanan Pangan di Daerah
-
Polisi Tetapkan 5 Tersangka Pengeroyokan Pria yang Diduga Curi Ayam di Tabanan
-
Penggagas Entourage Bali yang Diskriminasi WNI Suka Pindah-pindah Negara Gegara Ini
-
Tampang Duo Belanda yang Bikin Entourage Bali Kini Dicekal dan Kabur ke Singapura
-
Rieke Oneng Soroti Pengeroyokan di Bali: Jangan Sampai Ramah ke Turis, Tapi Lupa Lindungi Rakyatnya
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Dirjen Bea dan Cukai Bongkar Peredaran 20 Ribu Botol Miras Legal, Selamatkan Uang Negara Rp 2 M
-
Kejati Periksa Direksi Bank NTB Syariah Terkait Pinjaman PT Carsten
-
Proyek Rumah Sakit di Denpasar Terbakar, 2 Korban Dirawat Intensif
-
Bali Silent Disco Dituding Diskriminasi WNI, Koster: Ternyata Tidak Seperti Diberitakan!
-
Warga NTB Mulai Krisis Air Bersih