WhatsApp berkata bahwa mereka bekerja keras untuk membatasi penyebaran informasi bohong soal virus corona di platform mereka.
Sedangkan Telegram tidak memberi respons ketika dimintai tanggapan.
Chowdhury menampilkan dirinya sebagai sosok underdog yang berani melawan lembaga medis yang bermaksud menipu publik.
Dia menegaskan bahwa covid-19 "sama seperti flu biasa", meskipun faktanya virus itu jauh lebih mematikan.
Kendati ada banyak bukti yang menunjukkan sebaliknya, ia mengeklaim bahwa masker tak membantu menghentikan penyebaran virus dan justru akan membuat para pemakainya sakit.
Dia telah mengooptasi kata dalam bahasa Urdu azaadi, yang berarti "kebebasan" - seruan yang menggema di banyak komunitas tertindas di India, untuk slogannya "masks se azaadi" ("kebebasan dari masker").
Dalam salah satu buku elektronik tentang virus corona buatannya, Chowdhury menawarkan 100.000 rupee, atau sekitar Rp18 juta, bagi siapa pun yang "bisa membuktikan bahwa vaksin telah membantu dengan cara apa pun".
Tentu saja, ada literatur penelitian medis yang sangat banyak selama beberapa dekade yang mendokumentasikan bagaimana vaksin telah membantu mengendalikan dan bahkan memberantas penyakit di seluruh dunia.
Tapi Chowdhury mengabaikannya sepenuhnya.
Baca Juga: Mutasi India dan Afsel Masuk Indonesia, Satgas Covid-19: Jangan Panik
Chowdhury mulai mengembangkan "obat" diet kontroversialnya sekitar satu dekade lalu.
Itu hanya salah satu dari untaian karier yang penuh warna dan beragam.
Setelah belajar sebagai seorang insinyur, ia mencoba-coba pembuatan film Bollywood dan bahkan menjadikan dirinya sebagai pemain dalam satu film.
Dia juga pemimpin redaksi dan pendiri India dan Asia Book of Records yang meniru, tetapi tidak berafiliasi dengan Guinness Book of Records.
Nilesh Christopher, seorang jurnalis dari situs teknologi Rest of World, berkata Chowdhury menjadi tertarik dengan nutrisi ketika istrinya tak bisa sembuh dari penyakit seperti flu.
"Apa yang dia katakan kepada saya adalah, dia mengunjungi beberapa dokter, dan mencoba mencari obat untuk itu, tapi tak ada yang bisa menyembuhkan," katanya.
Berita Terkait
-
Skandal Sertifikat Vaksin Covid-19 Palsu, Granit Xhaka Kena Denda Rp3,2 Miliar
-
Kisah Sukses Zulhaida Sitanggang, Mampu Sulap Sampah Pasar Jadi Usaha Beromzet Jutaan Rupiah
-
Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun
-
Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19
-
IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Penyelam Tewas saat Menembak Ikan, Sempat Berteriak Minta Tolong
-
Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar
-
Bahasa Sasak Terancam Hilang? 2,2 Juta Penutur Hadapi Tantangan Baru di Era Modern
-
Qlola Mobile BRI Hadirkan Kemudahan Pantau Keuangan Perusahaan secara Real-Time
-
Pria di Klungkung Berakhir Babak Belur Dihajar Saat Ngopi