Scroll untuk membaca artikel
Pebriansyah Ariefana
Selasa, 04 Mei 2021 | 20:10 WIB
Biswaroop Roy Chowdhury (Youtube Anand Link)

"Dia memiliki banyak pengikut dan itu membuatnya lebih berbahaya."

Mereka adalah pengikut yang telah dia kumpulkan melalui banyak buku, video dan kursus online dan siaran langsung ceramahnya.

YouTube, Twitter, dan Facebook melarang Chowdhury tahun lalu, setelah dia berhasil mengumpulkan banyak pengikut - hampir satu juta di YouTube saja - sebelum akunnya dihapus.

Ia masih memiliki akun resmi di WhatsApp dan Telegram.

Baca Juga: Mutasi India dan Afsel Masuk Indonesia, Satgas Covid-19: Jangan Panik

Biswaroop Roy Chowdhury (Youtube Anand Link)

Pendukungnya juga mengunggah dan menyebarkan isi ceramahnya melalui akun proxy.

WhatsApp berkata bahwa mereka bekerja keras untuk membatasi penyebaran informasi bohong soal virus corona di platform mereka.

Sedangkan Telegram tidak memberi respons ketika dimintai tanggapan.

Chowdhury menampilkan dirinya sebagai sosok underdog yang berani melawan lembaga medis yang bermaksud menipu publik.

Dia menegaskan bahwa covid-19 "sama seperti flu biasa", meskipun faktanya virus itu jauh lebih mematikan.

Baca Juga: Dalam 5 Hari, 8.080 Warga Yogyakarta Telah Divaksin di Sentra Vaksinasi Ini

Kendati ada banyak bukti yang menunjukkan sebaliknya, ia mengeklaim bahwa masker tak membantu menghentikan penyebaran virus dan justru akan membuat para pemakainya sakit.

Load More