Scroll untuk membaca artikel
RR Ukirsari Manggalani
Kamis, 22 April 2021 | 08:47 WIB
Sejumlah prajurit TNI-AL awak kapal selam KRI Nanggala-402 berada di atas lambung kapal setibanya di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jatim, Senin (6/2/2012). Kapal selam tersebut kembali bergabung dengan TNI AL usai menjalani perbaikan menyeluruh di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan. [Antara/M Risyal Hidayat]

Di antara keikutsertaan KRI Nanggala dalam operasi laut antara lain latihan gabungan TNI AL-Angkatan Laut Amerika Serikat, CARAT-8/02 pada 27 Mei—3 Juni 2002, di perairan Laut Jawa, Selat Bali, dan Situbondo.

Pada 2004 ikut serta dalam Latihan Operasi Laut Gabungan XV/04 di Samudra Hindia. Saat itu misi KRI Nanggala-402 adalah menenggelamkan bekas KRI Rakata, kapal tunda samudra buatan 1942.

Sebagai kapal selam yang berada di kelas menengah dengan sistem propulsi konvensional (non-nuklir), Type 209/1300 digerakkan motor listrik Siemens low-speed yang dayanya disalurkan secara langsung melalui suatu poros ke baling-baling kapal di buritan. Artinya, daya ini tidak memakai mekanisme tambahan lain.

Dibeli langsung di negara pembuat dalam kondisi serba baru, sistem persenjataan bawah lautnya terdiri dari 14 terpedo AEG, dan pemantau berupa periskop Zeiss yang ditempatkan di samping snorkel buatan Maschinenbau Gabler. Dan kewaspadaan situasional KRI Nanggala-402 mengandalkan sonar CSU-3-2 suite.

Baca Juga: Analisa Penyebab Hilangnya Kapal Selam Nanggala-402 di Perairan Bali

Tenaganya disuplai empat generator mesin diesel MTU supercharged, dilengkapi baterai listrik penyimpan daya, dan total daya dipasok mencapai 5.000 shaft dk (daya kuda).

Baterai-baterai listrik tadi mengambil sekitar 25 persen bobot total kapal selam yang secara keseluruhan mencapai 1.395 ton.

Secara dimensi, panjang keseluruhan Type 209/1300 adalah 59,5 m, diameter luar 6,3 m, dan diameter dalam 5,5 m.

Jika menyelam, kecepatan kapal maksimum 21,5 knot. Jumlah awak berdasarkan spesifikasi dasar pabrikan adalah 34 pelaut.

Sedangkan sistem persenjataan, terdapat empat belas torpedo 21 inci/533 mm dalam delapan tabung menjadi andalan utama sistem kesenjataannya, yang pada 2021 akan diuji kebolehannya pada latihan puncak di perairan utara Pulau Bali.

Baca Juga: Kapal Selam KRI Nanggala 402 Hilang Kontak, Kasus Pertama di Indonesia

Dari tabung torpedo yang sempit itulah dapat juga menjadi wahana peluncuran manusia-manusia katak untuk misi penyusupan di belakang garis pertahanan musuh, suatu cara aksi yang berisiko tinggi sebetulnya.

Load More