Di antara keikutsertaan KRI Nanggala dalam operasi laut antara lain latihan gabungan TNI AL-Angkatan Laut Amerika Serikat, CARAT-8/02 pada 27 Mei—3 Juni 2002, di perairan Laut Jawa, Selat Bali, dan Situbondo.
Pada 2004 ikut serta dalam Latihan Operasi Laut Gabungan XV/04 di Samudra Hindia. Saat itu misi KRI Nanggala-402 adalah menenggelamkan bekas KRI Rakata, kapal tunda samudra buatan 1942.
Sebagai kapal selam yang berada di kelas menengah dengan sistem propulsi konvensional (non-nuklir), Type 209/1300 digerakkan motor listrik Siemens low-speed yang dayanya disalurkan secara langsung melalui suatu poros ke baling-baling kapal di buritan. Artinya, daya ini tidak memakai mekanisme tambahan lain.
Dibeli langsung di negara pembuat dalam kondisi serba baru, sistem persenjataan bawah lautnya terdiri dari 14 terpedo AEG, dan pemantau berupa periskop Zeiss yang ditempatkan di samping snorkel buatan Maschinenbau Gabler. Dan kewaspadaan situasional KRI Nanggala-402 mengandalkan sonar CSU-3-2 suite.
Baca Juga: Analisa Penyebab Hilangnya Kapal Selam Nanggala-402 di Perairan Bali
Tenaganya disuplai empat generator mesin diesel MTU supercharged, dilengkapi baterai listrik penyimpan daya, dan total daya dipasok mencapai 5.000 shaft dk (daya kuda).
Baterai-baterai listrik tadi mengambil sekitar 25 persen bobot total kapal selam yang secara keseluruhan mencapai 1.395 ton.
Secara dimensi, panjang keseluruhan Type 209/1300 adalah 59,5 m, diameter luar 6,3 m, dan diameter dalam 5,5 m.
Jika menyelam, kecepatan kapal maksimum 21,5 knot. Jumlah awak berdasarkan spesifikasi dasar pabrikan adalah 34 pelaut.
Sedangkan sistem persenjataan, terdapat empat belas torpedo 21 inci/533 mm dalam delapan tabung menjadi andalan utama sistem kesenjataannya, yang pada 2021 akan diuji kebolehannya pada latihan puncak di perairan utara Pulau Bali.
Baca Juga: Kapal Selam KRI Nanggala 402 Hilang Kontak, Kasus Pertama di Indonesia
Dari tabung torpedo yang sempit itulah dapat juga menjadi wahana peluncuran manusia-manusia katak untuk misi penyusupan di belakang garis pertahanan musuh, suatu cara aksi yang berisiko tinggi sebetulnya.
Berita Terkait
-
Oknum Prajurit Bunuh Jurnalis Juwita di Kalsel, TNI AL Minta Maaf ke Keluarga Korban
-
TNI AL Gelar Rekontruksi Kasus Pembunuhan Jurnalis oleh Oknum Prajurit, 33 Reka Adegan Dipergakan
-
KSAL Pastikan Peradilan Militer Oknum TNI AL yang Bunuh Jurnalis Juwita Akan Transparan
-
Femisida Intim di Balik Pembunuhan Jurnalis Juwita oleh Anggota TNI AL
-
Pembunuhan Jurnalis Kalsel: KSAL Jamin Transparansi Proses Hukum Oknum TNI AL
Terpopuler
- Dedi Mulyadi Sebut Masjid Al Jabbar Dibangun dari Dana Pinjaman, Kini Jadi Perdebatan Publik
- Baru Sekali Bela Timnas Indonesia, Dean James Dibidik Jawara Liga Champions
- Terungkap, Ini Alasan Ruben Onsu Rayakan Idul Fitri dengan "Keluarga" yang Tak Dikenal
- Yamaha NMAX Kalah Ganteng, Mesin Lebih Beringas: Intip Pesona Skuter Premium dari Aprilia
- JakOne Mobile Bank DKI Bermasalah, PSI: Gangguan Ini Menimbulkan Tanda Tanya
Pilihan
-
Hasil Liga Thailand: Bangkok United Menang Berkat Aksi Pratama Arhan
-
Prediksi Madura United vs Persija Jakarta: Jaminan Duel Panas Usai Lebaran!
-
Persib Bandung Menuju Back to Back Juara BRI Liga 1, Ini Jadwal Lengkap di Bulan April
-
Bocoran dari FC Dallas, Maarten Paes Bisa Tampil Lawan China
-
Almere City Surati Pemain untuk Perpanjang Kontrak, Thom Haye Tak Masuk!
Terkini
-
Waspadai Cuaca Laut Saat Arus Balik Lebaran: Gelombang di Selat Bali dan Lombok Capai Dua Meter
-
5 Restoran di Bali yang Cocok Untuk Acara Makan Bersama Keluarga
-
Thai Lion Air Kini Terbang dari Bali ke Bangkok, Jadwalnya 4 Kali Seminggu
-
Arus Balik dari Jawa ke Bali Mulai Meningkat, Akhir Pekan Diprediksi Jadi Puncaknya
-
7 Kolam Renang di Bali Murah Untuk Liburan Anak-anak