Sedangkan lokasi yang menjadi titik rawan aksi jambret dan copet berada di seputaran Legian-Ground Zero-Pantai Kuta.
"Di sini kan ada diskotik, jadi kalau ada orang atau bule mabuk itu yang jadi sasaran mereka. Kalau disini kita perketat, biasa mereka pasti bergeser. Mereka ini pintar pintar juga mereka pelajari gerak gerik kita saat melaksanakan pengamanan," bebernya.
Soal money changer liar menurut Wayan Wasista sudah sering di sidak oleh pihak desa, apabila ada warga asing yang merasa dirugikan. Bahkan money changer liar itu bersedia menggantikan kerugian korbannya.
"Jadi kan susah dilanjutkan kasus itu. Makanya itu jadi kendala karena mereka money changer penipu itu sudah memberikan ganti rugi," ujarnya.
Baca Juga:Cok Ace Sebut Pernyataan Senator Australia Soal Sapi di Bali Tendensius, Minta Jangan Fitnah
Dijelaskan Bendesa, di wilayah Kuta dan sekitarnya ada sekitar ratusan money changer liar dan sudah sangat meresahkan. Harapan pihak Desa Adat, money changer tersebut sadar dan berusaha mengurus perizinan terlebih dahulu kemudian setelah izinya lengkap baru bisa membuka usaha.
"Yang resmi ada sekitar 103 tapi yang liar banyak. Selama mereka belum melengkapi izin, kami Desa Adat bersama BI Kejaksaan Badung kita akan sikat," terangnya.
Untuk itu, pihak Desa mengimbau kepada masyarakat khususnya wisatawan domestik yang sering membawa ponsel melihat googlemap harus berhati-hati.
"Kami tidak bisa mengawasi secara keseluruhan. Ini juga mengundang kriminalitas jadi waspadalah. Kita pihak Desa Adat siap untuk mengamankan wilayah Kuta. Setiap saat kita akan lakukan sidak jika ditemukan ada kericuhan. Kita sifatnya membubarkan saja," pungkasnya.
Baca Juga:Modus Baru Peredaran Ganja di Bali, Dimasak Dan Dicampur Cokelat