alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sejak Pandemi Usaha Celup Kain di Buleleng Makin Sukses, Omzet Capai 200 Juta Per Bulan

Eviera Paramita Sandi Jum'at, 08 Oktober 2021 | 17:01 WIB

Sejak Pandemi Usaha Celup Kain di Buleleng Makin Sukses, Omzet Capai 200 Juta Per Bulan
Proses pencelupan kain menggunakan pewarna berbahan alami di studio Pagi Motley di Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng, Bali, Jumat (8/10/2021).

Bahkan usaha yang dirintisnya bersama warga desa ini berhasil menembus pasar luar negeri di tengah situasi pandemi COVID-19.

SuaraBali.id - Di saat industri pariwisata yang menjadi andalan pulau Bali lumpuh karena pandemi Covid-19, seorang warga Bali bernama I Made Andika Putra, pemilik Pagi Motley, studio pencelupan kain berbahan pewarna alami di Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng, Bali, mengaku usahanya malah makin sukses.

Bahkan usaha yang dirintisnya bersama warga desa ini berhasil menembus pasar luar negeri di tengah situasi pandemi COVID-19.

"Selama pandemi, omzet kami justru naik dari di atas Rp100 juta hingga Rp200 juta perbulan. Sedangkan sebelum pandemi rata-rata omzet kami maksimal Rp100 juta perbulan," kata Andika Putra saat ditemui di studionya di Singaraja, Buleleng, Jumat (8/10/2021)

Permintaan jasa pencelupan kain di Pagi Motley dengan tarif dari Rp75 ribu hingga Rp250 ribu per meter itu datang berbagai negara seperti Jepang, California, Korea, Selandia Baru, Amerika Serikat dan sejumlah negara di Benua Eropa.

Usaha pencelupan kain berbahan pewarna alami dan juga sejumlah produk tekstil jadi lainnya berupa baju hingga interior rumah telah dilakoninya sejak Agustus 2019 dengan menggandeng hingga 10-15 orang warga sekitar desa.

"Astungkara (atas karunia Tuhan) pandemi tidak menjadi kendala buat kami, namun permintaan malah naik. Beberapa pembeli kami dari luar negeri juga akan datang langsung ke Bali dalam waktu dekat, apalagi dengan dibukanya pariwisata Bali untuk wisman mulai 14 Oktober ini," ucapnya.

Andika melihat peningkatan permintaan pasar untuk produknya, karena pandemi ini menjadikan masyarakat dunia kian sadar pentingnya usaha yang berkelanjutan yang tetap menjaga kelestarian lingkungan dan tidak sampai merusak alam.

Ia menyebut pewarna alami yang digunakan untuk mencelup kain seperti daun mangga untuk warna kuning, serabut kelapa untuk warna coklat, daun ketapang untuk warna hitam, kayu secang untuk warna merah dan untuk warga biru mengunakan pohon strobilanthes cusia atau akrab dikenal dengan nama kecibeling.

"Saya sengaja memilih usaha ini karena prospeknya bagus dan pemainnya tidak cukup banyak. Tidak saja memproduksi produk artisan, tetapi kami dapat memproduksi massal ukuran 100-200 meter," katanya saat menerima rombongan awak media peserta Capacity Building Media yang digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali itu.

Permintaan jasa pencelupan kain di Pagi Motley dengan tarif dari Rp75 ribu hingga Rp250 ribu per meter itu datang berbagai negara seperti Jepang, California, Korea, Selandia Baru, Amerika Serikat dan sejumlah negara di Benua Eropa.

Komentar

Berita Terkait