SuaraBali.id - Sampah Mangrove bila diolah menjadi aksesoris ternyata bisa bernilai jual yang mahal.
Ini seperti yang dilakukan oleh pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Bali bernama I Nyoman Yenni Susanti.
Di tangannya sampah mangrove diubah menjadi produk kerajinan dengan teknik ecoprint yakni menggunakan warna dan motif berbahan alami untuk menekan pencemaran lingkungan dari bahan kimia.
"Kami mulai meniatkan ini menjadi usaha kerajinan pada 2019," kata pelaku UMKM ecoprint I Nyoman Yenni Susanti, Senin (25/9/2023).
Perempuan warga Taman Griya, Jimbaran, Kabupaten Badung ini tinggal berdekatan dengan kawasan hutan mangrove.
Ia mengaku awalnya hobi mengolah bahan dari bakau menjadi olahan kripik dan camilan yang saat itu belajar dari media sosial, Youtube.
Namun ia mengembangkan kreativitasnya ketika menyadari banyak sampah berupa batang dan daun bakau yang terbuang belum dimanfaatkan optimal dan hanya menjadi sampah.
Memiliki latar belakang sebagai penyuluh lingkungan, ia pun mulai membuat kerajinan berbahan kain menggunakan pewarna dari kulit batang mangrove dan daunnya sebagai motif.
"Saya buat dalam bentuk hadiah lalu diberikan ke teman-teman. Ternyata banyak yang suka dan pesan, akhirnya 2019 kami mulai bisnis," ucapnya.
Yenni pun memulai usaha kerajinan ini dengan teknik ecoprint dengan bahan dasar kulit dan kain yang diaplikasikan menjadi produk sandal, tas, topi dompet, sepatu, dan kipas.
Untuk pewarnaan, ia menggunakan 100 persen warna alami yang diambil dari kulit kayu pohon mangrove yang tidak terpakai dan buah mangrove atau lindur yang sebelumnya berserakan di tanah, ia gunakan untuk pewarna, serta daun-daunnya digunakan untuk motif.
Pemasaran usaha kerajinan yang dimulai saat pandemi COVID-19 itu pun menggunakan penjualan daring yang menarik minat konsumen melalui media sosial TikTok dan lapak penjualan daring lainnya.
Saat ini, setelah pandemi COVID-19 mereda ia pun merambah pasar konvensional bahkan merambah gerai pusat perbelanjaan dan toko oleh-oleh di Bali.
Meski sarana penjualan lebih luas, namun untuk penjualan produk masih dihitung dengan jari yakni rata-rata per bulan menjual hingga sekitar 150 jenis kerajinan berbagai produk.
Ada pun produknya dijual dengan harga bervariasi mulai Rp150 ribu hingga paling tinggi yakni tas mencapai Rp1 juta.
Berita Terkait
-
Hubungan Seks di Halaman Rumah Warga! WNA Australia Dilarang ke Indonesia 10 Tahun
-
Warga Australia Diblokir Masuk Bali Selama 10 Tahun karena Kasus Asusila
-
Mabuk Arak Bali, Dikira Begal! Kakak Adik di Bekasi Dipukuli Warga Sambil Pelukan
-
Saat Sampah Plastik Disulap Jadi BBM, Upaya Desa Cepaka Atasi Limbah Sulit Didaur Ulang
-
Tas-Jaket Garut Laris Manis di Malaysia, Bisnis Logistik Ikut Kecipratan
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
Terkini
-
Mulai Siapkan Dana Pensiun, BRI DPLK Tawarkan Kemudahan dan Bonus lewat BRImo
-
Kolektor Australia Bongkar Keindahan dan Filosofi Kain Tradisional Lombok
-
Benturan Keras di Kepala, Pendaki Asal China Jatuh Pingsan di Rinjani
-
Mobil Isuzu Elf Angkut 18 Wisatawan Terbakar di Bali
-
Nasib Warga Kampung Adat Sade yang Masih Tinggal di Pengungsian