SuaraBali.id - Sebuah video di media sosial YouTube kembali ramai menjadi perbincangan warganet dalam beberapa waktu belakangan ini. Dalam video tersebut, nampak seorang dokter yang diketahui merupakan dr Roslan Yusni Hasan atau dr Ryu Hasan memaparkan persoalan etika kedokteran.
Melalui channel YouTube Geolive, ia menjelaskan etika kedokteran seorang dokter serta menjelaskan metode 'brain spa' atau 'cuci otak' yang ramai diperbincangkan. Lantaran kala itu terjadi prokontra soal keabsahan yang digunakan Dokter Terawan Agus Putranto dalam metode pengobatan terhadap pasien stroke.
Berkaitan dengan kode etik kedokteran, Ryu Hasan menyebutkan seorang dokter yang mengiklankan dirinya sendiri tidaklah etis.
"Dokter itu tidak etis untuk mengiklankan dirinya," katanya dalam video yang kali pertama ditayangkan pada dua tahun silam berjudul 'Metode Cuci Otak Dokter Terawan'.
Ia mengemukakan, hal tersebut lantaran disiplin ilmu setiap dokter sesuai dengan kompetensinya.
"Misalkan ada dokter-dokter yang tugasnya itu sangat penting, misalkan dokter radiologi, dokter patologi anatomi, dokter patologi klinik itu penting untuk pendiagnosaan, untuk evaluasi, untuk follow up penyakit," lanjutnya.
Sehingga tidak semua dokter secara profesi dapat melakukan tindakan apapun. Ia memberi contoh pada kasus dokter radiologi yang melakukan pemeriksaan atas permintaan dokter ortopedi.
Namun, jika pada proses pemeriksaan dokter radiologi menemukan sesuatu, ia harus konsultasi kepada dokter ortopedi untuk tindakan selanjutnya. Sehingga tidak bisa sesuai keinginannya sendiri.
Ia juga menyebutkan bahwa dokter Terawan merupakan dokter radiologi,
Baca Juga: Rapat dengan PB IDI Sore Ini, Komisi IX DPR akan Bahas Isu Pemecatan Dokter Terawan
"Apakah dokter radiologi boleh melakukan terapi endovascular? Boleh, atas permintaan dokter saraf atau bedah saraf," katanya.
Dengan demikian, baik dokter bedah saraf, saraf, maupun radiologi dapat melakukan endovascular namun harus mengantongi standar kompetensi.
"Pendidikan, workshop, dilegalisasi oleh himpunannya sendiri," tegasnya.
Akan tetapi, dokter radiologi tidak dapat melakukan endovascular langsung tanpa permintaan dari dokter saraf atau bedah saraf.
"Tapi kalau dokter saraf atau bedah saraf, boleh dia memutuskannya sendiri karena keahliannya itu ilmu saraf," katanya.
Menanggapi video tersebut, warganet kemudian meresponsnya di kolom komentar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Panitia Batalkan Undang Raffi Ahmad di GSI Youth Fest Hero Summit
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- Kenapa Raffi Ahmad Diboikot? Ini Kronologi Acara Sumpah Pemuda sampai Rans Carnival Sepi
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
Pilihan
-
Konser Andrea Bocelli di JIExpo Ricuh: Massa Bakar Pembatas Jalan, Wartawan Terhantam Batu
-
Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
-
Tak Perlu Bongkar Kitab, Muhammadiyah Bikin AI Khusus ChatHPT untuk Jawab Persoalan Agama
-
Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
Terkini
-
Cuan Puluhan Miliar! Jambu Mete dari Lahan Kering NTB Kini Tembus Pasar Internasional
-
Anggaran PON 2028 Rp1 Triliun, DPRD NTB Pilih Mundur Jadi Tuan Rumah
-
Imigrasi Tangkap 3 WNA di Bali Diduga PSK Tarif Belasan Juta
-
WNI dan WNA Dilaporkan Hilang Tertimbun Longsor Masih Dicari
-
Darya-Varia Hadirkan Pemeriksaan Kesehatan Gratis dengan DiVi Lab di Self-Care AMRUN 5K 2026, Bali