Bali

Akibat COVID-19, Jumlah Daging Kurban di Denpasar Menurun 15 Persen

"Ada penurunan 15 persen tahun ini karena COVID-19, jumlahnya merosot dan harga naik. Di sini langka karena sapi-sapi sudah pada dibawa keluar Bali," kata Haji Hardilan.

M Nurhadi

Proses pemotongan daging kurban di Kantor DPW LDII Bali, Jumat (31/7/2020). (Antara/Ayu Khania Pranisitha/2020)
Proses pemotongan daging kurban di Kantor DPW LDII Bali, Jumat (31/7/2020). (Antara/Ayu Khania Pranisitha/2020)

SuaraBali.id - Jumlah daging kurban pada Hari Raya Idul Adha 1441 H di Bali mengalami penurunan hingga 15 persen di tengah pandemi COVID-19.

"Ada penurunan 15 persen tahun ini karena COVID-19, jumlahnya merosot dan harga naik. Di sini langka karena sapi-sapi sudah pada dibawa keluar Bali," kata Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah LDII Bali, Haji Hardilan, saat ditemui di Kantor LDII Bali, Jumat (31/7/2020).

Ia menjelaskan jumlah hewan kurban yang dipotong oleh LDII se-Bali untuk tahun 2020 sebanyak 93 ekor sapi, dan untuk kambing ada 217. Sedangkan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, untuk sapi ada 110 ekor dan kambing ada 270 ekor.

"Sekarang jumlahnya berkurang kira-kira 15 persen, tapi tetap ternyata ini kita dapat sapi yang gede-gede sehingga bobotnya lebih lebih tinggi, berat itu dibagi dan lebih banyak jadi bisa nutup dengan yang tahun lalu. Kalau dulu mungkin ada yang bobotnya kurang 300 kg, dan sekarang itu bisa mencapai 450 kg," ujarnya, melansir Antara.

Penurunan ini terjadi dikarenakan harga sapi yang mengalami peningkatan drastis. Untuk hewan sapi dulu harganya Rp15 juta, sekarang bisa Rp18 sampai Rp19 juta per ekor. Hardilan mengatakan pemotongan hewan kurban khusus di LDII berjumlah tujuh ekor sapi dan 12 ekor kambing.

"Hewan-hewan yang disembelih ini, sudah melalui proses pemeriksaan, selanjutnya setelah dibeli juga ada pemeriksaan kesehatan dari dinas terkait di bagian organnya, jeroannya itu. Sejauh ini tidak ada yang bermasalah, dan semua layak dikonsumsi tapi kalau tahun-tahun sebelumnya sempat ada ditemukam catatan," kata Hardilan.

Pemotongan sapi juga menggunakan alat khusus yang dibuat mandiri oleh warga LDII. Dengan menggunakan alat khusus tersebut, tidak perlu melibatkan banyak orang dalam pemotongan sapi sehingga dapat mencegah kerumunan massa. Ia menambahkan pembagian kurban ini kepada Krama Bali, dilakukan secara turun temurun. Kata dia, hal ini sebagai bukti nyata warga LDII Bali menjaga toleransi, kerukunan, dan persaudaraan dengan semeton Bali.

"Pengemasan daging kurban yaitu ditempatkan dalam besek yang terbuat dari anyaman bambu, sebagai bentuk mengurangi penggunaan kantong plastik,"ucapnya.

Selain itu, menurut Kabid Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali, rekapitulasi pemotongan hewan kurban Hari Raya Idul Adha selama tiga tahun mengalami peningkatan. Tahun 2017 yaitu sebanyak 5.896, tahun 2018 ada 6.250 ekor dan tahun 2019 ada 6.910 ekor. Sedangkan untuk tahun 2020 masih dalam proses pendataan.

Sementara itu, ada 1.277 titik pemotongan di seluruh Bali selama tiga tahun ini. Hal itu sudah dilengkapi dengan tenaga pemeriksa sebanyak 1.704 orang.

Berita Terkait

Berita Terkini