Bali

Cegah Covid-19, Warga Dilarang Main Layang-layang di Pantai Padanggalak

Mereka berbondong-bondong membawa layangan besar untuk diterbangkan tanpa mempedulikan protokol kesehatan.

Husna Rahmayunita

Ilustrasi main layang-layang. (Pixabay/cocoparisianne)
Ilustrasi main layang-layang. (Pixabay/cocoparisianne)

SuaraBali.id - Desa Adat Kesiman, Denpasar Timur menutup aktivitas bermain layang-layang  di Pantai Padanggalak Sanur mulai Senin (20/7/2020) hingga waktu yang belum ditentukan.

Wakil Bendesa (adat) Kesiman, Kota Denpasar Wayan Sukana mengatakan kebijakan ini dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Terlebih diketahui, kasus Covid-19 di Kota Denpasar kekinian masih tinggi.

"Untuk mencegah pandemi Covid-19 semakin meluas di Kota Denpasar maka akses menuju Pantai Padanggalak ditutup sementara dari aktivitas masyarakat main layang-layang. Langkah ini juga upaya mengurangi kerumunan massa," ungkap Wayan Sukana, seperti dikutip dari Antara.

Ia menututkan hampir semua fasilitas publik terus dijaga dan dievaluasi di tengah pandemi Covid-19, meski sudah pemerintah telah menerapkan adaptasi kehidupan baru atau new nowal.

"Semua fasilitas publik di evaluasi. Karena dari pemantauan dan data bahwa hampir semua desa dan kelurahan terdapat kasus COVID-19," imbuhnya.

Menurut Wayan Sukana, pada prinsipnya pihak desa adat tidak melarang masyarakat untuk menaikkan layang-layang. Namun, aspek pencegahan Covid-19 harus tetap diprioritaskan.

Dikatakannya, penutupan aktivitas bermain layang-layang di kawasan Padanggalak tersebut merupakan hasil kesepakatan paruman (rapat) prajuru Desa Adat Kesiman dan pemerintah dari tiga desa, yang meliputi Kesiman Kertalangu, Kesiman Petilan, dan Kelurahan Kesiman.

Wayan Sukana mengatakan dari pantauan yang dilakukan desa adat, muncul kekhawatiran warga Kesiman terkait penyebaran Covid-19 di sekitar pantai.

Pasalnya, yang menaikkan layang-layang di kawasan Padanggalak tidak hanya warga Denpasar melainkan warga luar wilayah.

Mereka berbondong-bondong membawa layangan besar untuk diterbangkan tanpa mempedulikan protokol kesehatan seperti menjaga jarak fisik dan memakai masker.

"Yang menjadi kekhawatiran warga kami, satgas, dan prajuru desa adat jika salah satu ada yang terpapar sudah pasti akan menyebarkan ke yang lainnya," ujar Wayan Sukana, memungkasi.

Berita Terkait

Berita Terkini